Rail (part 1)

*Cella pov*

Aku membaca novel romantis kesukaanku di kelas saat anak anak lain keluar dari kelas sekedar untuk makan atau pun ke perpustakaan. Dari dulu , aku lebih suka membaca di kelas dari pada di perpustakaan. Mungkin karena kelas yang sepi membawaku ke suasana yang lebih tenang.

Ah sial, tiba tiba dua orang yang paling ku benci di sekolah ini atau mungkin di dunia ini datang kepadaku. Yap, mereka adalah Deutro dan Demitri. Pasangan kembar yang huruf di depan namanya sama sama ‘D’ dan selalu mendapat nilai ‘D’ di kelas.

Entah apa salahku kepada mereka, tapi mereka selalu mempermainkanku dan sebentar lagi aku pasti akan dijadikan bahan permainan mereka. Ok, aku hanya bisa pasrah dengan keadaan ini. Aku harap Tuhan mengambil nyawaku untuk sementara atau mungkin tiba tiba aku jatuh pingsan. Demitri pun melempar novelku asal ke lantai.

“Cih, seleramu rendahan sekali membaca novel seperti itu” kata deutro meremehkan.

“Bisakah kau kembalikan novelku ?” kataku sinis dan datar.

“Memangnya kenapa aku harus mengembalikan novelmu ?” kata deutro sinis.

Aku memutarkan bola mataku lalu meniupkan poni, ” karena kau melemparnya”

“Ambil saja sendiri!” sekarang demitri juga ikut berbicara.

Karena aku tidak ingin berdebat pada mereka, aku pun terpaksa mengambil novelku yang tergeletak di lantai. Baru saja tanganku akan mengambil benda itu, demitri mengambil novelku dengan cepat. Lalu dia mengangkat novelku.

Aku menjinjitkan kakiku dan berusaha mengambil novelku. Memang punya tubuh pendek itu menyebalkan, “Kembalikan novelku” tanganku berusaha mengambil benda itu.

“Apa peduliku” dia menjulurkan lidahnya.

Aku benar benar sudah geram tingkah mereka , “Kembalikan bukuku !” aku menarik kerah bajunya. Aku merasa wajah dan mataku sudah panas karena sudah sangat marah.

Seketika Deutro memisahkan kami berdua, “Kau jangan macam macam pada adikku” sementara yang dibicarakan hanya membetulkan kerah bajunya.

“Ajari adikmu caranya ber-e-ti-ka”

Demitri melemparkan novelku ke atas mejaku, “Ayo kak, kita pergi. Dasar anak aneh!” katanya sinis. Akhirnya mereka meninggalkanku.

Bel berbunyi sebanyak tiga kali, pertanda bahwa pelajaran sudah selesai. Tapi, aku harus tetap ada di sekolah ini karena aku harus mempersiapkan diriku untuk olimpiade fisika. Yap, sebenarnya aku tidak berniat ikut kompetisi semacam itu. Menurutku hal seperti itu memusingkan dan menambah bebanku dalam hal pelajaran. Toh, lagi pula aku tidak akan memenangkan kompetisi itu. Tapi apa daya, aku tetap dipaksa oleh pihak sekolah untuk mengikuti kompetisi tersebut.

Aku menuju kelas 12-ipa-b. Tempat kami -aku dan anak anak yang akan mengikuti kompetisi- berlatih. Kami akan dilatih oleh guru fisika kami. Pak Zenden. Dia adalah guru muda yang kemampuan fisikanya tidak perlu diragukan.

Aku memutar knop pintu. Dan anak anak memandangku dengan tatapan aneh. Ya, sudah kuduga kejadiannya akan seperti ini. Aku mengacuhkan tatapan mereka kepadaku, karena aku sudah biasa mendapatkan tatapan aneh seperti itu.

“Silahkan masuk” pak Zenden tersenyum tipis kepadaku

“Terima kasih pak” aku tersenyum ramah kepadanya.

Waktu sudah menunjukkan jam 6 sore, saatnya aku kembali ke rumah. Aku melewati lorong sekolah, entah mengapa rasanya ada yang mengikutiku. Tapi aku tidak peduli aku tetap melangkahkan kedua kakiku.

Tiba tiba saja ada orang yang mencekram bahuku lalu mendorongku ke tembok. Ternyata dia adalah Demitri. Ah sial, aku baru ingat hari ini mereka juga ada ekskul.

“Kau kira kau bisa lolos dari kami” kata deutro yang ada di samping demitri sambil berkacak pinggang.

“Lepaskan aku” kataku datar.

“Kau jangan jangan macam pada kami!”

Aku melepaskan tangannya dari kerag bajuku dengan kasar. Lalu, aku membuat tubuhnya membelakangiku. Aku memutar lengan kanannya dengan tanganku lalu menguncinya di pinggang kirinya. Sementara tangan kirinya sedang mencekram lengan kananku.

Aku melingkarkan lengan kiriku ke lehernya dan kubuat wajahnya sejajar dengan wajahku, “kau jangan berbuat seenaknya padaku” aku berbisik tepat di telinganya. Setelah itu, aku langsung menendang bokongnya hingga ia terjatuh di lantai.

Melihat hal itu, Deutro langsung mencekik leherku dan mendorongku ke tembok, “Kau kira kau siapa. Hah?!?!??”

Aku mencekik lehernya dan mendorongnya ke lantai sehingga posisiku ada di atas tubuhnya, “Bisakah kau berhenti membully-ku?”

Tanpa sadar, ternyata anak anak yang ada di sekolah sedang melihat kami dan bersorak sorak.

“Deutro!!… deutro!!!” kata mereka sambil bertepuk tangan mengikuti irama ketukan bicara mereka. Huh, kenapa tidak ada yang mendukungku.

“BERHENTI!!!” dari ujung lorong sekolah kepala sekolah berteriak pada kami.

Huh, gara gara dua cewek sialan itu aku harus membersihkan seluruh lingkungan sekolah sampai sampai aku baru pulang dari sekolah jam setengah sembilan malam.

Menunggu itu memang hal yang membosankan apalagi stasiun sepi seperti ini. Kurasa sekarang kebanyakan orang lebih suka mengendarai kendaraan pribadi.

‘kenapa kereta belum datang datang juga’ aku bergumam pada diriku sendiri. Kuedarkan pandanganku ke seluruh penjuru stasiun kereta. Tak sengaja aku melihat laki laki yang sedang minum-mungkin itu alkohol- di tempat duduk yang tidak jauh dari samping tempat dudukku.

“Mengapa kau memperhatikanku” dia melihatku dengan matanya yang sayu dan tubuhnya yang gontai. Sepertinya orang ini sudah mabuk.

“Ehmmm… ma… ma… maafkan aku” aku mengalihkan pandanganku ke depan. Bagaimana dia bisa tau kalau dari tadi aku memperhatikannya?. Kurasa kemampuan telepatinya luar biasa.

Tiba tiba saja dia duduk di sampingku. Karena aku merasa agak takut, aku menggeser bokongku untuk menjauhkan tubuhku darinya.

Tapi siapa sangka, dia menyenderkan kepalanya di bahuku lalu dia menangis, “Jangan pergi…” katanya lirih.

“Maaf, aku tidak mengenalmu” aku mendorong kepalanya supaya menjauh dari bahuku.

Aku langsung berdiri dari tempatku, takut kalau dia berbuat macam macam padaku. Saat aku berdiri dari tempatku, dia menggenggam tanganku, “Jangan pergi…”

Aku langsung menghempaskan tangannya dan berjalan menjauhi dirinya. Kurasa pria ini benar benar gila, tiba tiba saja dia memelukku dari belakang.

GREP

“Jangan pergi…” katanya lirih

Untung saja kereta datang, dengan cepat aku langsung melepaskan tubuhku dari pelukannya dan langsung berlari ke dalam kereta. Ternyata banyak penumpang disini, aku terpaksa harus berdiri. Saat kereta melaju, aku melihatnya dari kaca jendela.

Setelah dua puluh menit, kereta ini berhenti di stasiun berikutnya. Tunggu, ada apa ini? kenapa orang tadi ada di stasiun ini? dan sekarang dia tersenyum padaku dari luar kaca jendela.

Aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah lain. Tapi entah kenapa kepala ini rasanya tidak bisa diajak kompromi sehingga aku melihat ke arah dia lagi tapi ternyata dia sudah menghilang dari pandanganku.

Kereta pun melaju lagi, aku hanya berkelut dengan pikiranku, bingung mengapa semua ini terjadi. Apa mungkin ini hanya ilusi saja atau mungkin ini memang nyata. Entahlah, mungkin hanya alam bawah sadarku dan Tuhan yang tahu.

Saat aku masih terpacu dengan pikiranku, para penumpang malah panik, “AWAS!!! KECELAKAAN!!!!” kata salah satu penumpang yang ada di dalam kereta. Aku baru sadar ternyata dari tadi kereta ini berguncang, salah satu orang memecahkan kaca yang ada di depanku.

PRANG

Lalu mendorong tubuhku hingga keluar dan bagian lengan serta perutku tersayat oleh pecahan kaca yang masih terpasang di jendela dan kepalaku membentur batu berukuran sedang yang tidak jauh dari samping rel dengan keras hingga kepalaku mengeluarkan darah dan seketika mataku terpejam, mungkin ini adalah halaman terakhir dari buku kehidupanku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s