the next target (part 1)

*Luhan pov*

“Pak bagaimana? Apa dia sudah ditemukan?” aku duduk di hadapannya dengan tatapan yang penuh harapan sementara jari-jarinya masih menari di atas mesin tik tersebut.

Seketika, ia berhenti dari kegiatannya tersebut,” Maaf, pak. Kami belum bisa menemukannya” lalu ia menyeruput secangkir kopi yang ada di samping mesin tik tersebut.

Pundakku melepas, pikiranku penuh pilu. Sudah dua minggu gadis itu belum ditemukan. Aku merindukannya. Sangat merindukannya.

Aku keluar dari kantor polisi tersebut, dan berjalan gontai menuju halte bus terdekat, 15 menit kemudian aku sampai di halte. Hanya ini yang bisa kulakukan. Menunggu. Beberapa lama kemudian, bus yang kutunggu datang. Selama di dalam, otakku hanya terpusat oleh gadis itu, ‘Dimana kau?’, ‘Kenapa kau menghilang?’, ‘Kapan kau kembali?’, ‘Cepatlah kembali!’ Aku hanya memikirkan empat kalimat itu.

Aku turun di pemberhentian ketiga. Cuaca hari ini dingin sekali, aku memperkencang ikatan syal merahku sesekali, aku menggosok kedua tanganku dan meniupnya dalam keadaan terkatup lalu memasukkan tanganku lagi ke dalam saku yang terpajang di sisi kiri-kanan mantel coklat yang kukenakan.

Setelah beberapa saat aku berjalan,  aku sampai di depan komplek pemakaman. Di sana, terdapat toko bunga,”pasti mawar putih” kata pemilik toko tersebut saat aku sudah masuk di tokonya. Sudah empat tahun aku menjadi pelanggan setianya. Jadi, dia sudah tahu apa yang kuinginkan.

Aku tersenyum tipis di hadapannya, “Iya” dia memberi dua tangkai mawar putih kepadaku lalu aku langsung memberinya uang dan pergi dari toko itu.

“Ayah… Ibu…. Maafkan aku” kataku sambil menaruh mawar mutih di makam mereka yang bersebelahan.

Aku sampai di apartemenku, kurebahkan tubuhku di atas kasur lalu mengelus kasur tersebut, “Zhang Li Yi, aku merindukanmu” dulu, dia selalu tidur di sampingku dan biasanya tiba tiba dia akan memelukku dan aku akan membalas pelukannya. Aku memejamkan mataku, seketika air mata mengalir dari mataku yang tertutup.

Dengan nafas yang tersengal, aku mengejar mobil yang jauh ada di depanku, “Jangan bawa Zhang Li Yi!” aku berteriak sambil mengejar mobil itu. Lalu, jendela mobil itu terbuka dan kepalanya mendongak keluar, “Xi Luhan, tolong aku” wajahnya menghadap ke arahku dan terlihat dari wajahnya kalau dia sedang menangis.

Aku membuka mata, terbangun dari mimpi burukku, “Zhang Li Yi, kau dimana?” kataku lirih. Aku bangun dari kasurku, lalu pergi menuju dapur untuk mengambil minuman dingin.

Aku mengambil gelas yang berdiri di tempat gelas. Gelas itu adalah pemberian Li Yi. Gambar di gelas itu adalah Conan Edogawa, tokoh yang ada di cerita Detektif Conan. Dia memang tahu kalau dari dulu aku suka dengan Detektif Conan.

Aku membuka kulkas dan mengambil air lalu menuangkannya ke dalam gelas tersebut. Lalu, aku menarik bangku yang ada di depan meja makan dan duduk di situ.

Kalian tahu pekerjaanku apa? aku adalah pelayan cafe. Kalian mungkin kaget mengapa aku bisa membeli apartemen padahal aku seorang pelayan cafe. Ok, biar kuberi tahu pada kalian, aku bekerja di cafe yang selalu penuh setiap hari dan kebanyakan pengunjungnya berasal dari kalangan high class. Jadi, sangat mungkin bagiku untuk mendapatkan upah yang besar.

Aku masih terpikir dengan mimpi itu, Apa itu sebuah tanda?. Entahlah, lebih baik  tak usah kuhiraukan dan melanjutkan kegiatan tidurku.

“Bagaimana? Apa dia sudah ditemukan?” kata temanku saat sedang istirahat makan malam.

“Belum” jawabku lesu. Mengingatnya saja sudah membuatku sedih.

“Bersabarlah” ia menepuk pundakku lalu mengepalkan tangannya di hadapanku, “Semangat!”.

“Terima kasih” sekilas, aku menyunggingkan senyumku lalu memutar secangkir teh yang ada di atas meja dan menyeruputnya. Aku memang tidak seperti pria pria lain yang menyukai kopi.

Tiba tiba salah satu temanku yang lain datang menghampiri kami, “Luhan, kau dipanggil oleh manajer”

“Memangnya ada apa?”

“Mana ku tahu” ia mengerdikkan bahunya.

“Ada apa bos?” kataku saat sudah di ruang manajer.

“Silahkan duduk” dia menengadahkan tangannya ke arah kursi yang ada di hadapannya.

“Kenapa kau memanggilku kesini?” kataku saat aku sudah duduk.

“Maaf jika ini menyinggung perasaanmu, tapi mulai besok kau tidak perlu bekerja disini lagi”

“Kenapa ??!!?!!” kataku kaget.

“Sejak kekasihmu hilang, kau jadi tidak berkonsentrasi berkerja dan banyak pelanggan yang protes karena kau banyak melakukan kesalahan.

Dia menggeser amplop tebal yang ada di atas meja ke hadapanku, “ini upahmu” sebersat senyum menyungging di wajahya. Senyuman merasa bersalah.

—-

Aku berjalan kaki menuju apartemen karena jarak cafe dan apartemenku lumayan dekat. Mungkin membutuhkan waktu sekitar 15 menit.

“Argh….” aku menjambak rambutku frustasi saat berjalan menuju apartemen. Kenapa aku harus dipecat di saat saat seperti ini? Hidup ini tidak adil!. Aku hanya merutuki diriku di sepanjang trotoar yang sepi yang hanya dihiasi oleh lampu lampu yang menancap di bagian pinggirnya. Aku menendang kerikil kecil yang ada di depanku.

Rasanya aku ingin menendang atau pun memukul semua benda yang ada di sekitarku. Hari ini kenapa aku sial sekali. Tadi siang, aku dimarahi pelanggan karena salah memberi pesanan lalu pada malamnya aku dipecat. Menyebalkan sekali hidupku!.

Aku terus berjalan dan berjalan, entah kenapa, tiba tiba ada rasa takut yang menyelimuti pikiranku. Kurasa ada yang mengikutiku. Sebenarnya ada rasa penasaran untuk menengok ke belakang dan melihat siapa orang yang mengikutiku, tapi, karena rasa takutku mengalahkan rasa penasaranku, aku memutuskan untuk berjalan dan mempercepat langkahku.

Suara langkahnya makin terdengar di telingaku, aku makin mempercepat langkah kakiku malahan sampai aku berlari. Harus kuakui, aku bukanlah pelari yang baik, tiba tiba orang itu membekapku dari belakang. Aku memberontak dan berusaha menyelamatkan diriku. Tapi hal itu sia sia, tiba tiba semuanya menjadi gelap.

*Author pov*

Luhan membuka matanya perlahan. Dia mengerjapkannya beberapa kali untuk mengumpulkan kesadarannya. Dia merasa berada di ruangan yang asing baginya. Tempatnya pengap, hanya ada satu lampu yang menggantung di atasnya. Dan hanya ada lubang kecil di sisi kiri atas dinding, tempat masukya ventilasi udara.

Dia berusaha bangun dari kursi yang didudukinya, tapi ternyata tangannya diikat di belakang kursi penyanggah tersebut. Sepertinya penculik itu mengikatnya dengan sangat kencang sampai sampai pergelangan tangan Luhan terasa sakit.

Dan yang lebih aneh lagi, dia dalam keadaan telanjang. Bahkan, tidak ada seuntai benang pun yang menempel pada badannya. Saat ini, otaknya tidak bisa diajak kompromi. Dia tidak bisa berpikir jernih. ‘Kenapa aku seperti ini?’, ‘Siapa orang biadab yang tega melakukan ini padaku?’ . Semenjak Zhang Li Yi hilang, pikirannya selalu dipenuhi banyak pertanyaan dan sekarang pertanyaan di otaknya bertambah semenjak dia ada di ruangan ini.

‘Tapi, untuk apa aku memikirkan hal itu’ gumamnya. Dari pada memikirkan hal yang tidak penting menurutnya, lebih baik dia menyelamatkan diri lalu mencari Zhang Li Yi. Dia berusaha melepaskan ikatan yang ada di pergelangan tangannya. Dia meraba tali itu untuk mencari ujungnya. Tapi sayang, dia kalah cepat, ada orang tiba tiba masuk ke ruangan ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s