Kencan Pertama yang Bodoh

ini juga pernah ada di blog gua erenluciana.blogspot.com :v . . .

Ini pertama kalinya Adit dan Dena melakukan kencan pertama mereka. Mereka memberhentikan angkot yang ada di depan mereka dan menaikinya. Ehm.. tidak seperti anak lain, yang menggunakan sepeda motor ataupun mobil. Kenapa bisa begitu ?, karena ayah Adit bekerja di kepolisian lalu lintas dan tidak memperbolehkan anaknya untuk menaiki kendaraan pribadi sebelum umur 17 tahun. Umur Adit dan Dena masih 16 tahun.
“seru yah, kencan kayak gini”kata Adit saat sedang di perjalanan
“Iya seru, tapi masalahnya gue yang bayar ongkosnya”kata Dena nyindir
“ya udah sih, lagian nanti gue yang traktir, kan pembagian tugas” kata Adit dengan tawa di akhir kalimat
“dasar kere”kata Dena kesal
“namanya juga masih remaja. Belum bisa nyari duit”
Tiba-tiba ada ibu hamil yang menaiki angkot dan duduk di hadapan mereka.
“Eh, liat deh kok kayaknya ibu hamilnya keliatan masih muda”bisik Dena ke Adit
“Gak boleh gitu lu, ngegosip aja kerjaan lu” balas Adit dengan bisikan juga
“ibu lagi hamil yah?” tanya Dena dengan pertanyaan bodohnya
“ya iyalah lu liat aja sendiri , perut gue gede. Lu kira perut gue, gue kasih bantal!”kata ibu hamil itu, jutek
“oh.. hamil yang keberapa bulan ?” tanya Adit penasaran
“7” kata ibu hamil itu jutek
“Ya elah, jutek banget bu. Nanti suaminya gak sayang loh terus pas lahiran banyak halangannya” kata Adit memberi nasihat ke ibu hamil tersebut.
“gue gak punya suami !”
“ maksudnya?” kata Adit dan Dena penasaran
“Lu mau tau umur gue berapa?”
“berapa?”kata Adit dan Dena penasaran lagi
“18”
“Apa ? berarti lu seumuran kakak gue !”kata Dena syok.
“Lah, kok bisa gitu ?” tanya Adit kepada ibu hamil tersebut.
“jadi gini, hubungan gue sama pacar gue gak direstuin sama orang tua gue. Terus akhirnya kami memutuskan untuk melakukan hubungan pernikahan sebelum waktunya biar nanti orang tua gue dengan terpaksa nikahin kita. Tapi, pas gue hamil pacar gue malah ninggalin gue. Dasar cowok brengsek!. Coba waktu itu gue denger perkataan orang tua gue, pasti kejadiaannya gak kayak gini”
“gila!, ekstrem banget ceritanya”kata Dena yang masih tak menyangka
“kalian pacaran ?” tanya remaja hamil (dari ibu hamil ke remaja hamil sejak tau murnya masih 18 tahun) tersebut kepada Adit dan Dena
“iya” kata Dena dan Adit bersamaan
“nah, kalau kalian pacaran , pacaran kalian wajar-wajar aja kayak remaja biasanya. Jangan aneh-aneh, nanti kejadiannya kayak gue. Sekarang, gue malah dijauhin temen-temen gue dan Cuma satu orang yang mau temenan sama gue dan mungkin masa depan gue udah suram”
Nasihat remaja hamil itu pun tertanam di hati Adit dan Dena.
“iya, makasih nasihatnya. Gue ngerti kok pasti rasanya sakit banget”kata Dena, pengertian
—beberapa saat kemudian—
“aduh, perut gue sakit” kata remaja hamil itu kesakitan sambil memegang perutnya.
“ya udah, tahan dulu yah” kata Dena kepada remaja hamil tersebut.
Adit dan Dena pun berpindah tempat duduk ke tempat duduk remaja tersebut dan masing-masing memegang lengan remaja tersebut.
“anak gue mau lahiran” kata remaja tersebut kesakitan
“pak, cepetan ke puskesmas atau rumah sakit”kata Adit teriak ke supir angkot
“sip dek”kata supir angkot membalas dengan teriakan
—beberapa saat kemudian—
Mereka sampai di rumah sakit, Adit pun megendong remaja hamil tersebut sambil dibantu supir angkot. Dan mereka berlari memasuki rumah sakit. Dan, badan ibu tersebut direbahkan di tempat tidur berjalan (au ah namanya apaan). Sepanjang menuju kamar bersalin, remaja tersebut menjambak rambut supir angkot dan Adit.
“ibu, yang sabar yah… bentar lagi kita mau sampai”kata dokter tersebut
“jangan keras-keras dong jambaknya” kata Adit kesakitan karena dijambak
“namanya juga orang hamil”kata Dena lari dengan tergesa-gesa
—beberapa saat kemudian—
Mereka pun sampai di kamar bersalin. Dan di kamar bersalin, remaja itu melahirkan dengan sekuat tenaga.
“iya, bu tarik napas … terus keluarin pelan-pelan”kata dokter tersebut memberi ikstrusi
“Aduh.. kepala gue sakit” kata Adit menjerit kesakitan karena rambutnya dijambak remaja tersebut
“pala saya juga sakit dek” kata supir angkot tersebut
“woi tolong ambilin hp gue yg ada di kantong” kata remaja tersebut kepada Dena
Dena pun mengambil hp remaja tersebut. Lalu, dia keluar dari kamar bersalin.
“Aduh, yang mana nih cowoknya ?” kata Dena bingung sambil melihat daftar nomor telpon yang ada di hp
“Radit, Dika, Randy, Andi, Joko, Tarso. Siapa cowoknya ?” kata Dena masih bingung dan panik
Akhirnya dia mengirim sms ke semua nomor telepon cowok yang ada di hp remaja tersebut, “woi pacar lu melahirkan ke rumah sakit cipta husada, cepat kesini sekarang!”
—beberapa saat kemudian—
Ada seorang cowok yang datang, “mana sih citra?” kata cowok itu panik
“hah, citra ?. ehm… ada di dalam”
— di dalam ruang persalinan —
Suster, “selamat yah anak ibu cewek. Pasti pas udah besar jadi cantik kayak ibunya”
Citra, “makasih suster”
“Citra, lu baik-baik aja?” kata Dika
Tiba-tiba Adit memukul Dika, “Dasar cowok brengsek!” kata Adit marah . Suasana di kamar bersalin jadi rusuh. Dan bayi dari Citra menangis lebih keras dari sebelumnya.
“cup cup cup jangan nangis yah dek” kata suster menenangkan bayi tersebut
 Dena dan supir angkot tersebut melerai Adit, “woi, jangan emosi!” kata Dena kepada Adit, “Dek, yang sabar dek. Semua bisa pakai musyawarah” kata Supir angkot menasihati Adit.
“eh, dia tuh temen gue !” kata Citra kepada Adit.
“oh.. ehm.. maaf” kata Adit meminta maaf kepada Dika dengan malu-malu
“iya, gak papa kok. Kalau gue jadi lu, gue juga bakal kayak gitu” kata Dika pengertian
“makanya jangan apa-apa pakai emosi. Malu-maluin gue aja lu” kata Dena nyindir Adit
“iya.. iya… hehehe” kata Adit malu-malu kepada Dena
“semua itu bisa didiskusikan dengan baik-baik” kata Supir angkot menasihati Adit
“Iya pak, makasih atas nasihatnya”
“makasih yah, udah mau bantuin gue” kata Citra kepada Adit, Dena, dan Supir angkot tersebut
“bu, anaknya mau dikasih nama apa?” kata suster tersebut tiba-tiba ngomong
“ehmm.. nama lu siapa?” tanya Citra ke Dena
“Dena”
“saya kasih nama Dena”
“Aduh… makasih” kata Dena malu-malu
Tiba-tiba saja Dika mengatakan sesuatu kepada Citra, “lu mau jadi pacar gue gak ?”
“Cie….” kata seluruh orang (kecuali bayinya) yang ada di ruang bersalin
“mau” kata Citra terharu
Suasana di kamar bersalin jadi mengharukan sampai-sampai supir angkot itu menangis. Dan mengusap air matanya dengan handuk kecilnya. Bahkan, dia mengeluarkan ingus dengan handuk kecilnya. Adit dan Dena pun melihat tingkah supir angkot dengan jijik.
Yah, Adit dan Dena melakukan kencan pertamamereka dengan sangat bodoh. Tapi setidaknya mereka mendapatkan banyak pelajaran di kencan pertama mereka. Salah satunya mereka melakukan hal-hal wajar di kencan selanjutnya.
—the end—
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s