the next target (part 2)

*Author pov*

Luhan menyipitkan matanya, meneliti siapa orang bajingan yang menculiknya. Dia tak bisa melihatnya wajahnya dengan jelas, karena cahaya lampu yang remang remang. Tapi, orang itu terlihat menggunakan masker hitam yang menutupi hidung, mulut dan dagunya. Yang terlihat hanyalah mata dan dahinya.

“Siapa kau?!!??!! ” katanya ketus sekaligus bingung

“Santai saja. Tidak usah marah padaku seperti itu” katanya santai seakan pria itu tidak melakukan kesalahan apapun

“Siapa kau sebenernya? Iblis apa yang merasuki dirimu?”  Luhan  Berbicara dengan serentet pertanyaan yang dari tadi ada di otaknya sejak dia ada di ruangan tersebut.

“Hei! hei! hei!. Bisakah kau tidak memberiku pertanyaan secara bertubi-tubi. Ini baru permulaan, sayang. Setelah ini, semua pertanyaan mu akan terjawab. Tapi tidak sekarang, karena aku akan membuat kisah ini menjadi lebih menarik” katanya seakan akan menenangkan hati Luhan yang kacau dan sekarang dia sedang menyunggingkan senyum liciknya di balik masker tersebut.

“Aku tidak perlu omong kosongmu itu, BODOH!”

BUK

“Dasar kau pria brengsek!” dia marah atas perlakuan pria itu padanya.

BUK

Ya, lagi lagi pria itu memukul wajah Luhan, darah segar keluar dari ujung bibirnya,

“Dasar psycho!”

“Oh yasudah kalau menurutmu seperti itu, aku akan membiarkan image psycho ku ini menempel pada diriku” tantangnya kepada Luhan.

“Baguslah kalau kau sadar”

Pria itu mengambil meja yang ada di sebelah pintu, lalu membawanya ke hadapan Luhan, “kau ingin melakukan apa, HAH ?!!!?!!”

“KAU DIAM SAJA” kata pria itu yang sudah geram dengan perlakuan Luhan.

“ini mulutku!. Terserah mau kuapakan!” pria itu merogoh kantong mantelnya, mencari sebuah benda yang ada disana.

“Apa yang akan kau lakukan dengan…”  belum saja dia menyelesaikan omongannya, pria itu sudah menutup mulutnya dengan lakban.

“mmmpppphhhh…..” kata Luhan memberontak.

Pria itu pergi ke pojok kiri ruangan, mengambil sebuah benda yang ada di nakas. Bukan, sepertinya bukan satu benda saja, tapi ada tiga buah benda yang diambil pria itu.

Pria itu menghampiri Luhan, dia mengikat kaki Luhan di kedua sisi penyanggah meja itu.

Dengan sekuat dia berusaha melepaskan kakinya dari tangan pria itu. Namun dewi fortuna berpihak kepada pria itu, dia berhasil mengikat kedua pergelangan kaki Luhan. Dan sekarang Luhan dalam posisi mengangkang.

“Wow, what a big asshole” katanya terpesona melihat betapa besarnya ‘barang’ Luhan

*Luhan pov*

Dasar pria gila, kenapa dia mengomentari ‘barang’ ku. Apa dia tidak pernah melihat ‘barang’ sebesar itu ?. Tapi, kalau ku lihat ‘punya’ dia cukup besar juga. Walau, dia tidak memakai celana yang terlalu ketat, tapi ‘punya’ nya masih kentara. Kalau aku perempuan, pasti aku akan terpesona padanya.

Hush.. jauhkan pikiran kotormu itu Luhan, kau kan cowok dan kau masih normal.

“Kau tau apa yang akan kulakukan dengan gunting rumput ini?” katanya menaikkan alis kanannya.

Dasar pria bodoh, mana mungkin aku menjawab pertanyaan sementara dia menutup mulutku dengan lakban. Aku hanya menggelengkan kepala.

“Aku akan memotong jari kakimu” mataku terbelalak, kaget dengan pernyataannya. Pria ini menyeramkan sekali.

“mmmmppphhh…..” kataku memberontak. Dia memotong jariku satu persatu hingga jatuh berceran di lantai dan darah merembas dari sana. Saat jariku dipotong, terdengar suara tulangku yang patah.

CEKLEK

Begitu kira kira bunyinya. Bulir bulir bening keluar dari mataku, menahan rasa sakit saat jari-jariku dipotong. Sementara, pria itu hanya tertawa seakan akan apa yang dilakukan adalah pertunjukkan komedi. Kurasa benar kata orang, seseorang tidak perlu menyiksa orang lain karena alasan, seseorang menyiksa orang lain hanya untuk kesengannya.

Dia berdiri dari tempatnya lalu berkata, “Oh yeah, ini menyenangkan” katanya sambil bertepuk tangan.

Pria itu melepas lakban yang menempel di mulutku, “Awww..” aku meringis karena gesekannya yang dihasilkan lakban itu membuat mulutku terasa perih dan kesakitan. Tapi ini tidak ada apa-apanya dengan apa yang tadi sudah dia lakukan.

“Kau kira ini menyenangkan ??!!!!?” kataku protes

“Tentu saja” dia menjetikkan jari kuku-kukunya.

“Lagi pula, itu kan yang biasa dilakukan oleh orang psycho”

“Dasar kau manusia sialan!” kataku marah

“Kau ini!. Apakah kau tidak bisa bertutur kata dengan baik -_-“

“Dari pada kau, kau tidak punya perasaan!”

“Aku melakukan ini karena aku masih punya perasaan Luhan”

“Ba ba ba gaimana kau bisa mengetahui namaku ?” aku megernyitkan dahiku sambil menelan salivaku.

“Kau kira aku melakukannya hanya untuk kesenangan?. Aku melakukannya karena sebuah alasan” kurasa pria ini bisa membaca pikiranku saat jari-jariku dipotong.

“Kalau kau memang dendam padaku, kenapa kau tidak langsung membunuhku saja?”

“Aku lebih suka melihat orang yang kubenci mati secara pelan pelan” katanya licik.

“Sudahlah!, makanlah ini!” pria itu mengambil jari-jariku yang berceceran di lantai.

“Kau gila suruh aku makan itu” aku memandang jijik jari jari kakiku yang berlumuran darah.

“Tapi dari kemarin malam kau belum makan”

“Tapi, apakah kau tidak bisa memberiku makanan yang lebih manusiawi” aku memutar bola mataku.

“Iya iya, tunggu sebentar, aku akan keluar dulu” pria itu keluar sambil membawa jari jari kaki Luhan, sementara, kaki Luhan masih mengeluarkan darah.

“Dasar pria aneh” gumam Luhan saat pria itu sudah keluar dari ruangan ini.

*Luhan pov*

Memangnya, apa alasan pria itu menculikku ?. Dendam apa yang dia punya padaku?. Kenapa ini rumit sekali

TBC

maaf yah kalo lebih dikit soalnya cuma segitu aja yang bisa saya berikan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s