Rail (part 3)

*Cella pov*

“Terima kasih yah sudah mau menolongku” kataku menghadapkan wajahku ke arahnya yang ada di belakangku yang sedang duduk di pinggir kasur sementara aku sedang duduk di depan meja belajar karena mengerjakan pr.

“Iya sama sama” Katanya tersenyum di hadapanku.

“Ngomong ngomong mereka siapa ?” Katanya nemecahkan keheningan yang sempat terjadi beberapa saat.

“Maksudmu siapa ?” kataku sambil mengerjakan pr dan memikirkan rumus rumus yang ada di kepalaku. Memilih rumus apa yang cocok pada setiap pertanyaan.

“Entahlah, yang pasti mereka perempuan dan kembar”

“Apa ?!!?! Kau mengenalnya ?!!!?!” aku berbalik lagi ke arahnya.

“Tidak. Aku tidak tau siapa mereka” dia menggelengkan kepalanya

“Hanya saja, aku melihat mereka menguncimu di toilet” dia melanjutkan kata-katanya.

“Sudah kuduga” aku berjalan ke arahnya, duduk di sebelahnya. Kutundukkan kepalaku.

“Memangnya ada apa dengan mereka ?”

“Entahlah mereka selalu mem-bully-ku” aku menatap lantai dengan tatapan kosong.

“Kenapa mereka melakukan itu padamu ?”

“aku juga tidak tahu alasannya” aku menengok ke arahnya.

aku menarik nafas dalam dalam lalu menghembuskannya “Rasanya, seperti ada perasaan dendam saat melihat mereka” aku melanjutkan kata kataku.

“Dendam ?” terlihat kalau Javes mengerutkan dahinya.

“Tentu saja, apa kau tidak merasa marah jika seseorang memperlakukanmu dengan tidak baik tanpa alasan yang jelas”

“Jadi ?”

“Mereka harus merasakan apa yang aku rasakan. Bahkan lebih kejam dari yang kurasakan” aku mempertajam tatapan ku padanya. Menatapnya lebih dalam.

“Mau kubantu ?” katanya sambil mengulurkan tangannya ke arahku sambil tersenyum.

“Tentu” aku membalas uluran tangannya. Membalas senyumannya.


“Akhirnya dapat juga” aku melihat novel yang sedang kupegang. Aku memang ingin membaca cerita ini sejak awal, aku menuju kasir untuk membayar.

“Kau Cella kan?” Kata seorang pria saat aku mengantri.

“Iya, kau benar. Memangnya kau siapa ?”

“Oh, namaku gabriel. Aku juga waktu itu diwakilkan sekolah untuk ikut olimpiade” katanya sambil mengajakku berjabat tangannya, aku membalas uluran tangannya.

“Oh…” aku membalas uluran tangannya sambil mengingat ngingat orang yang sekarang ada di depannya dan aku tidak ingat sama sekali.


“La la la” Deutro melantunkan sebuah lagu , ia sedang berada di kamar mandi, tubuhnya yang dibaluti handuk menghadap kaca sambil menyisir rambutnya yang basah.

Kriekkk

“Siapa yang buka pintu ?” Ia melihat ke arah pintu tapi di sana tidak ada siapa siapa, akhirnya dia melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.

Tiba tiba saja dia melihat ‘orang’ yang memakai mantel hitam dengan tudung di kepalanya.

“Siapa kau ?!!?!!” Katanya membentak langsung menengok ke belakang tapi disana tidak ada siapa siapa.

“Mungkin itu hanya halusinasi” ia berbalik lagi tiba tiba ‘orang’ itu ada di hadapannya.

“Hi sayang” katanya sambil tersenyum licik.

“Ah!!!!” Katanya sambik berteriak.

–5 menit kemudian–

“Yak, ada apa ??!!?!” kata Demitri langsung ke kamar mandi saat mendengar teriakan. Kamar mandinya cukup besar, dia mengitari  kamar mandi. Dan akhirnya disinilah dia, di depan bak yang sudah berisi air berwarna merah dan terdapat wanita yang ada di dalamnya (?).

“Kak.. kak!!!” ia melihat mayat kakaknya yang tak berdaya. Badannya sudah dipenuhi luka sayatan, wajahnya sudah terlihat sangat pucat.

“Kak, kau jangan bercanda!” ia menggoyang goyangkan tubuh kakaknya lalu memeluk kakaknya dan menangis sejadi jadinya.

“Ada apa?” tiba tiba ibunya datang.

“Kakak…..” ia melepaskan pelukannya, dan menunjukkan sosok kakaknya kepada ibunya. Ibunya langsung kaget melihat sosok anaknya.

Setelah kabar kematian Deutro tersebar, orang orang yang kenal dengan deutro atau murid murid sekolahnya datang ke pemakaman. Termasuk Cella.

“Kenapa kau meninggalkanku secepat ini” kata Demitri sambil mengelus nisan kuburan kakaknya.

“Turut berduka cita..” kata Cella sambil menepuk pundak Demitri.

“Untuk apa kau kesini ?!!?!” Bentak Demitri kepada Cella.

Ia berjongkok supaya badannya sejajar dengan Demitri, “Formalitas” bisiknya ke telinga Demitri. Demitri geram, dia hampir saja marah kalau bukan saja tiba tiba ada ‘orang’ yang di belakang Cella yang menggunakan mantel hitam dengan tudung di kepalanya, dan bola  matanya memancarkan cahaya merah

TBC

kok kayaknya kai juga cocok meranin jadi grabiel yah /plak/

Huaaa akhirnya update juga yah, maaf yah kalo lama T_T trus ceritanya aneh gimana gitu dan updatenya juga dikit #salahkanpadaauthoryangbergoyang. Semoga kalian suka yah, sekian.

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s