The next target (part 3)

*luhan pov*

Setelah sekitar 30 menit, pria itu datang ke hadapanku. Membawa sepiring sate.

“Nah, makanlah ini” kata pria itu menyodorkan satu tusuk sate kepadaku.

“itu apa?”

“Tentu saja ini sate. Apa kau tak bisa lihat?” kata pria itu datar dengan nada bicaranya yang terdengar ketus.

“Makanlah” lanjut pria

“….”

“Ayo makan!”

“Tidak. Aku tidak mau”

“Kubilang makan!”

“Kubilang aku tidak mau”

“Ayo makan” dia menyodokkan sate itu ke dalam mulutku dengan paksa hingga gusiku mengeluarkan darah. Dengan terpaksa, aku memakan sate sate itu. Rasa asin itu bercampur dengan makanan yang kumakan. Aneh rasanya.

“Kau tahu sate itu terbuat dari apa?” dia menopang tangannya di atas meja dan menatapku dengan tajam. Aku hanya mengerdikkan bahuku saja. Toh, aku juga tidak penasaran tentang asal usul sate sate ini.

“Sate itu terbuat dari jari kakimu sendiri” aku kaget mendengarnya, pria itu melakukan tindakan tindakan gila yang tidak bisa dicerna otak manusia. Dasar psycho. Aku langsung memuntahkannya ke lantai karena merasa jijik mendengar pernyataannya.

“Kau gila!” aku menumpahkan segala kemarahanku padanya. Jadi dari tadi aku makan jari-jari kakiku sendiri ?!!?!!. Aku seperti seorang kanibal, semoga tadi itu belum masuk tindakan kanibalisme. Kalau ternyata iya, aku akan mengumumkan pada seluruh dunia bahwa aku tidak sengaja melakukannya.

“Well, kamu yang mnyuruhku memberikan makanan yang manusiawi” dia menaikkan tubuhnya di atas meja, menekukkan lututnya, lalu menjentikkan kukunya.

“Ya ya ya, kau memang pria gila. Kau lebih baik tidak usah hidup di dunia ini. Kalau kau tidak hidup, pasti hidupku tenang” aku menyindirnya. Menumpahkan segala pendapatku tentangnya, tanpa memikirkan perasaanya. Toh, siapa dia. Aku tidak peduli, lagi pula aku tidak mengenalnya.

“Sebenarnya aku juga tidak ingin hidup di dunia fana ini yang penuh dengan kemunafikan” entah sejak kapan dia sudah turun dari meja itu dan berdiri di hadapanku.

“Ya sudah kenapa kau tidak bunuh diri saja” aku langsung menyatakan hal itu padanya. Siapa tau dia berniat melakukan hal itu. Jadi, aku bisa kabur dari sini. Terdengar sinis memang, tapi inilah diriku apa adanya.

“Apa yang ada di dunia ini sudah di rencanakan, dan kita adalah bagian dari rencana ini untuk tetap mempertahankan eksistensi yang ada di planet ini terhadap planet planet lain. Lagipula aku juga tidak akan melakukan hal bodoh semacam itu”

“Kau kira di angkasa raya sana ada alien?, hahahaha” aku tidak habis pikir, ternyata pria ini mempunyai imajinasi yang tinggi terhadap hal hal yang berhubungan dengan planet planet atau apapun yang ada di dalamnya. Kenapa dia tidak jadi astronot saja. Kenapa dia harus repot repot menculikku. Pria ini kenapa lucu sekali.

“Bukan itu maksudku bodoh. Apa yang sudah terjadi disebut nasib” nada bicaranya berubah menjadi lebih serius dari sebelumnya. Bahkan, dia menekankan kata terakhir di dalam kalimatnya itu.

“Ya, terus kenapa kau mengganggu ‘nasib’ku”

“Selain ada nasib, di dunia ini juga ada pilihan. Dan pilihanku adalah merubah nasibmu”

“Kau tidak punya hak atas itu!”

“Tentu saja aku punya, lagi pula kau juga pernah melakukannya”

“Hah, sejak kapan ?” aku mengernyitkan dahiku. Bingung dengan arah pembicaraan yang dia bawa.

“Sejak dulu, kau merubah segalanya, dan kau juga yang merubahku seperti ini”

“Aku tidak pernah melakukan apa apa. Kurasa, semua yang kulakukan baik baik saja”

“Sejak kapan kau pernah melakukan hal baik, Luhan”

“Setidaknya aku tidak pernah menyusahkan orang toh”

“Kau ini bodoh sekali!” aku mengernyitkan dahiku saat pria itu berkata hal seperti itu. Apanya yang bodoh, yang kukatakan memang benar kan.

“Tentu saja kau menyusahkan, semua ini terjadi karena kau. Karena kau aku harus melakukan dendam seseorang kepadamu. Dan tentu saja, bukan orang itu saja yang punya dendam terhadapmu tapi aku juga” ia melanjutkan kata-katanya.

“Lalu kenapa kau juga punya dendam padaku” aku mengernyitkan dahiku lebih dalam.

“Kau merubah hidupku”

“Apa maksudmu ?”

“Kau tahu siapa aku?”

“Mana kutahu, kau saja memakai masker -_-”

“Cobalah berhipotesa tentang diriku, maka kemungkinan dari kebenarannya sebesar 60% . Mungkin”

“Kuberi waktu pada kau untuk menebak siapa diriku ?” lalu dia keluar dari tempat itu. Pria ini maunya apa, kenapa dia aneh sekali. Yang harus lakukan adalah menyelamatkan diri !!.

“Menebak tentang dirinya ? Kurasa kali ini tidak penting” aku mencari ujung tali yang mengikat pergelanganku, kuraba setiap bagian tali yang mengikatku ini. Akhirnya, aku menemukan ujung tali tersebut. Lalu kutarik dan tali itu terlepas. Pergelangan tanganku terasa sakit, tapi aku tidak peduli aku langsung menuju pintu dan membuka pintu tersebut.

“Hi sayang” pria brengsek itu ternyata ada di hadapanku. Aku langsung berjalan mundur dan dia menembakkan timah panas ke pahaku, seketika aku langsung terjatuh. Aku memegang pahaku dan menggigit bibir bawahku untuk menahan sakit.

“Kau jangan macam macam” seketika dia datang ke arahku sambil menjambak seorang wanita dan menyeretnya. Wanita di menggigiti sarung dan terus terusan menegluarkan air mata. Dia ternyata adalah Zhang Li Yi.

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s