Promise

Aku menunggunya di tepi jembatan Sungai Han pada pukul 7.30 malam, dia berjanji akan sesuatu padaku 5 tahun yang lalu. Saat itu kami sudah lulus dari SMA.

Flashback on
“Maaf, ini terlalu cepat. Aku tidak bisa menerima permintaanmu saat ini”
“Kenapa ?”
“Kita baru lulus SMA, tidak mungkin kita menikah”
“Tapi kita bisa menjalani kehidupan bersama sembari kuliah”
“Selain itu, aku juga mendapatkan beasiswa di Jerman” katanya sambil memainkan jari jari tangannya di bawah.
“Kau tidak pernah memberitahuku tentang itu”
“Kalau aku memberitahukanmu kau pasti akan melarangku”
“Maafkan aku, untuk kali ini aku tidak bisa menerimamu. Kita harus mengejar impian kita terlebih dahulu” aku hanya diam mendengar pernyataannya. Kubiarkan dia menjelaskan apa yang ingin dia ucapkan. Dia menghirup nafas lalu membuangnya dan siap siap mengatakan sesuatu,”Temui aku di tempat di mana kita resmi menjadi sepasang kekasih di tanggal dan jam yang sama, 5 tahun lagi”
“5 tahun lagi ??!?!” Jawabku kaget. Sungguh, 5 tahun itu bukanlah waktu yang singkat.
“Setelah lulus aku harus berkerja kan”
“Lalu, apa selama 5 tahun kita tidak akan bertemu ?”
“Kurasa iya, aku akan sangat sibuk di Jerman. Lagipula, kita bisa berkomunikasi lewat media sosial”
“Astaga, kau membuatku gila” Aku memijat pelipisku, rasanya dia memang benar benar membuatku gila. Kenapa perempuan di depanku ini sering sekali melakukan hal yang tidak terduga.
“Ayolah, kalau kau ingin memilikiku sepenuhnya kau harus melewati banyak rintangan”
“Ah sudahlah, aku terima permintaanmu. Aku tidak ingin dibuat semakin gila”
CHU~
Tiba tiba dia menciumku tepat di bibirku lalu dia berlari meninggalkanku. Aku hanya berdiri terdiam melihat kepergiannya. Dia telah mencuri ciuman pertamaku. Sekali lagi aku harus bilang, kalau dia sering sekali melakukan hal hal yang tidak terduga.
Flashback off

Aku memandang Sungai Han, Sungai Han rasanya terlihat lebih indah di malam hari karena lampu lampu yang menghiasinya. Aku tersenyum, aku mengingat saat di mana aku menyatakan cinta kepadanya. Sungguh, itu sangat tidak romantis.

Flashback on
“Aku bosan kalau kita hanya berteman terus. Ayo kita pacaran” kataku tiba tiba tanpa berpikir. Sungguh, aku juga tidak berencana sebelumnya untuk menyatakan cinta padanya walau aku memang mencintainya tapi aku belum berencana untuk menyatakannya. Mulut ini tiba tiba saja mengeluarkan kata kata itu.
“Kau serius ?” Katanya sambil menatapaku.
“Iya” kataku singkat-padat-jelas. Sudah terlanjur kukatakan, lebih baik aku mengiyakannya saja.
“Mulai sekarang kita berpacaran” katanya sambil tersenyum lalu mengalihkan pandangannya ke Sungai Han.
“Boleh kutahu sekarang ini jam berapa ?” Aku langsung mengambil handphone yang ada di saku mantelku,”8.01″ kataku sambil melihat layar handphoneku.
“Oke, anggap saja kita resmi menjadi sepasang kekasih pada pukul 8 malam” katanya yang pandangannya masih mengarah ke Sungai Han
Flashback off

Aku diam diam tersenyum.  Mengingat saat saat aku bersamanya. Sungguh, kisahku dan dia memang tidak seromantis sepasang kekasih kebanyakan tapi harus kuakui kisahku itu sangatlah manis. Tiba tiba saja ada orang yang menutup mataku, aku menyentuh lengannya. Ah, aku tau dia siapa.
“Hyerin…” kataku sambil melepaskan tangannya dan berbalik ke arahnya.
“Jongin…” katanya lalu tersenyum. Wajahnya tidak berubah sedikitpun sejak lulus SMA.
“Kenapa tidak pakai oppa?”
“Ah tidak, panggilan itu terlalu manis untukmu. Terlalu tidak pantas untukmu” perempuan ini masih saja menyebalkam seperti dulu, kukira dia sudah tobat.
“Kau ini masih sama saja” kataku sambil mencubit pipinya. Rasanya gemas sekali melihat tingkahnya.
“Sakittt” katanya sambil memukul tanganku.
“Panggil oppa dulu”
“Aku tidak sudi” mendengar itu, aku mencubit pipinya lebih keras.
“Jongin oppa, lepasskaannnnn!!!!!” Teriaknya, aku langsung melepaskan cubitanku dari pipinya.
“Kau ini sadis sekali” katanya sambil mengelus ngelus pipinya.
“Iya, maafkan aku” kataku sambil mengelus puncak kepalanya.
“Jangan mengacak ngacak rambutku!” Katanya sambil menghempaskan lenganku.
“Maaf..”
“Kau tahu, sebelum kesini aku membutuhkan waktu yang lama untuk berdandan” katanya sambil membentak. Sungguh, aku sebenarnya ingin tertawa, wajahnya tidak menyeramkan sama sekali.
“Kau tidak perlu berdandan, lagipula kau sudah cantik” tiba tiba muncul semburat merah di pipinya. Kuyakin pasti dia terlalu senang mendengar pujian dariku.
“Ah tidak tidak, kurasa tadi aku salah bicara. Yoona SNSD jauh lebih cantik darimu” dia langsung memukul lenganku setelah mendengarnya.
“Kau tidak perlu marah, walau kau tidak secantik Yoona tapi kau tetap satu satunya wanita yang istimewa di mataku”
“Kali ini kau tidak bercanda kan ?”
“Tidak mungkin aku kesini hanya untuk bercanda. Kau tahu tujuanku kan?” dia terdiam dan tampak berpikir. Lebih tepatnya pura pura berpikir.
“Memangnya untuk apa ?”
“Jangan berpura pura! Kau pasti tahu kan”
“Iya.. iya.. aku tahu”
“Jadi apa kau akan menerimaku ?”
“Astaga kenapa kau masih menanyakan hal itu, lagi pula dari 5 tahun lalu aku bilang aku tidak bisa menerimamu pada saat itu”
“Jadi ?”
“Aku menerima permintaanmu untuk saat ini”
“Astaga, jadi kau menerima lamaranku”
“Tentu saja. Yasudah, sekarang di mana cicinnya” katanya sambil mengadahkan tangannya di hadapanku.
CHU~
Aku menciumnya tepat di bibirnya, dia terlihat kaget dan diam saja lalu aku membisikkan sesuatu di telinganya, “kejar aku kalau kau ingin mendapatkannya” aku pun langsung berlari dari hadapannya. Beberapa detik kemudian, dia tersadar dari lamunannya dan mengejarku.
“Yak Kkamjong!. Jangan macam macam padaku” katanya mengejarku sambil melemparkan sepatunya ke arahku.

END

Advertisements

the next target (part 1)

*Luhan pov*

“Pak bagaimana? Apa dia sudah ditemukan?” aku duduk di hadapannya dengan tatapan yang penuh harapan sementara jari-jarinya masih menari di atas mesin tik tersebut.

Seketika, ia berhenti dari kegiatannya tersebut,” Maaf, pak. Kami belum bisa menemukannya” lalu ia menyeruput secangkir kopi yang ada di samping mesin tik tersebut.
Continue reading

Secret Admirer

738

Aku menaruhkan surat yang sudah kutulis tadi malam ke dalam lokernya, “Semoga dia membalasnya” gumamku sambil menutup lokernya. Kau tahu bagaimana cara aku dapat membukanya ? Aku memakai jepitan kecil yang biasa kupakai di poni panjangku. Setelah aku menaruh suratku ke dalam lokernya, aku menutup kembali loker itu lalu menguncinya dengan jepitanku setelah itu aku memakaikan jepitan itu ke poniku lagi. Continue reading