the next target (part 1)

*Luhan pov*

“Pak bagaimana? Apa dia sudah ditemukan?” aku duduk di hadapannya dengan tatapan yang penuh harapan sementara jari-jarinya masih menari di atas mesin tik tersebut.

Seketika, ia berhenti dari kegiatannya tersebut,” Maaf, pak. Kami belum bisa menemukannya” lalu ia menyeruput secangkir kopi yang ada di samping mesin tik tersebut.
Continue reading

Rail (part 2)

—-Seminggu kemudian—-

Aku membuka mataku. Mengerjapkannya beberapa kali untuk mengumpulkan kesadaran. Oh…  ternyata surga tempatnya seperti ini. Sama saja seperti di dunia, tidak ada yang istimewa.

“Hi”, kata seseorang yang memakai mantel hitam serta tudung yang ada di kepalanya. Kurasa dia adalah malaikat pencabut nyawa.

“Oh… jadi kau yang mencabut nyawaku. Terimakasihyah”, aku tersenyum tulus di depannya. Aku  senang  bisa  meninggalkan  dunia  ini  tanpa  harus  melakukan  hal  bodoh   seperti  bunuh  diri. Continue reading

Secret Admirer

738

Aku menaruhkan surat yang sudah kutulis tadi malam ke dalam lokernya, “Semoga dia membalasnya” gumamku sambil menutup lokernya. Kau tahu bagaimana cara aku dapat membukanya ? Aku memakai jepitan kecil yang biasa kupakai di poni panjangku. Setelah aku menaruh suratku ke dalam lokernya, aku menutup kembali loker itu lalu menguncinya dengan jepitanku setelah itu aku memakaikan jepitan itu ke poniku lagi. Continue reading

Rail (part 1)

*Cella pov*

Aku membaca novel romantis kesukaanku di kelas saat anak anak lain keluar dari kelas sekedar untuk makan atau pun ke perpustakaan. Dari dulu , aku lebih suka membaca di kelas dari pada di perpustakaan. Mungkin karena kelas yang sepi membawaku ke suasana yang lebih tenang.

Ah sial, tiba tiba dua orang yang paling ku benci di sekolah ini atau mungkin di dunia ini datang kepadaku. Yap, mereka adalah Deutro dan Demitri. Pasangan kembar yang huruf di depan namanya sama sama ‘D’ dan selalu mendapat nilai ‘D’ di kelas. Continue reading